Fakhri Husaini Dan Gonjang-ganjing Pemilihan Pelatih Tim Nasional Indonesia :: Nusantaratv.com

Fakhri Husaini Dan Gonjang-ganjing Pemilihan Pelatih Tim Nasional Indonesia

Di Indonesia, untuk menjadi pelatih tim nasional hanya satu orang dari 285 juta penduduk
Fakhri Husaini Dan Gonjang-ganjing Pemilihan Pelatih Tim Nasional Indonesia
Fakhri Husaini / Foto: Abadikini

Jakarta, Nusantaratv.com - Puncak tertinggi kepuasan hati seorang pelatih adalah mengarsiteki Tim Nasional. Baik itu di negara sendiri maupun di negara orang. Semua yang sudah memiliki sertifikat kepelatihan, pastinnya berlomba-lomba merebut kursi pelatih tersebut.

Di Indonesia, untuk menjadi pelatih tim nasional hanya satu orang dari 285 juta penduduk. Pastinya itu jabatan yang sangat mentereng. Namanya akan selalu menghiasi semua media cetak, portal, medsos dan televisi setiap hari.

Jenjang menjadi pelatih itu pun, tidak gampang. Dari jenjang mendapat lisensi lokal, nasional, AFC, Asia, dan FIFA, itu pun butuh waktu, biaya dan juga tentunya fokus. Setelah mendapat semua lisensi yang diinginkan, harus berkompetisi, untuk mendapatkan tempat di Indonesia, yang terbagi dalam wadah kompetisi, termasuk di dalam rebutan kursi pelatih bersama pelatih asing.

Di format dunia, banyak mantan kapten tim nasional, yang melakoni jenjang berikutnya setelah gantung sepatu. Misalkan, Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff yang dianggap sukses dan menelorkan taktik dan strategi baru, dalam perkembangan medote kepelatihan. Namun, juga ada yang gagal, misalkan Diego Maradona dan Lothar Matthaus, dan tentunya masih banyak lagi.

Di format nasional, ada dua mantan kapten tim nasional yang tidak sukses saat mengemban tugasnya sebagai pelatih, misalkan Iswadi Idris, saat menangani Perkesa Mataram Galatama dan juga Pra Piala Dunia 1990, bersama M.Basri dan Abdul Kadir yang terkenal dengan trio BASISKA. Atau juga, Ronny Pattinasarany yang tak pernah sukses pegang klub Makassar Utama atau Persiba Balikpapan.

Bahkan di Indonesia, justru ada tiga kapten yang sepengetahuan Cocomeo news, justru ogah menjadi pelatih klub profesional atau pelatih nasional. Misalkan, Ferril Raymond Hattu (berhenti, karena terobsesi menjadi karyawan) dan Ricky Yacobi, serta Agung Setyabudi. Karena, selain lebih suka menjadi pegawai negeri, juga dirinya merasa nyaman di zona pembinaan.

Namun, versi Cocomeo News hanya satu mantan kapten (bayangan) tim nasional yang “mbeling’ sekaligus berkarakter, dan memiliki talenta sebagai pelatih yaitu Fakhri Husaini.

Sejak menjadi pemain, Fakhri Husaini yang dikenal Cocomeo News adalah pemain yang sedikit dari mantan pemain nasional yang berkarakter dan memiliki intelegensi tinggi di jamannya. 

Lihat saja dari era 50-an hanya Maulwi Saelan dan Tan Liong Houw atau Latif Harris Tanoto (bapaknya Wahyu dan Budi Tanoto). Setelah era 60-an ada Andi Ramang dan Soetjipto Soentoro. Jaman 70-an ada Iswadi Idris, Ronny Pattinasarany, Risdianto. Jaman 80 dan 90-an, ada Bambang Nurdiansyah, Ferril Raymond Hattu, Rully Nere dan Fakhri Husaini. Sedangkan, era 2000-an, versi CN justru banyak pemain salon ketimbang pemain legendaris. Hanya Bambang Pamungkas, yang bisa dinobatkan sebagai pemain berkarakter dan legenda.

Kembali ke masalah Fakhri Husaini. Bagi Cocomeo News, adalah peristiwa langka di awal kepengurusan Komjen Pol Mohamad Iriawan alias Iwan Bule dan kawan-kawan. Bayangkan, sejak 2 November setelah terpilih Kongres PSSI di Shangrilla, Jakarta. Iwan Bule belum mengumumkan kepengurusan.

Menurut Cocomeo News, Iwan Bule belum membentuk manusia-manusia di organisasinya, sudah ngotot memilih pelatih kepala asal Korea Selatan, Shin Tae-yong, 28 Desember 2019. Dan, kemarin lagi-lagi Iwan Bule juga sudah menunjuk salah satu asistennya Shin tae-yong, adalah Fakhri Husaini, yang dipersiapkan ke 2012 FIFA U-20 World Cup.

Fakhri Husaini, adalah pelatih tim nasional yang meraih gelar juara Piala AFF U-16 tahun 2017, dan kemudian membawa Timnas U-19 lolos ke Piala Asia U-20 yang akan berlangsung di Uzbekistan tahun 2020. Dan, seharusnya pantas mendapat tempat sebagai pelatih utama, dengan materi yang sama, bermain di depan publiknya sendiri, di event Piala Dunia U-20, tahun 2021 di Indonesia, “PSSI harus menjaga rasa hormat kepada pelatih asli Indonesia.

Tanggal 10 Januari 2020 ini, direncanakan Iwan Bule akan umumkan asisten pelatih Shin Tae-yong, untuk tim nasional Indonesia U-23, yaitu Indra Syafri dan asisten U-20 adalah Fakhri Husaini. Hanya saja, versi CN – jika Iwan Bule tetap memberi porsi pelatih lokal hanya di bawah bayang-bayang pelatih asing. Maka hasilnya, Iwan Bule “ditampar” Fakhri Husaini.

Cocomeo News, jadi teringat ketika Fakhri Husaini, adalah pemain nasional yang masuk dalam pelatnas tim nasional, dibawah komando Rusdy Bahalwan tahun 1998. Setahun setelah Fakhri ikut menyumbangkan medali perak SEA Games 1997. “Pelatnas di Surabaya, nyaris semua anak-anak Jawa. Gua ajak Ansyari dan Inyong Lolombulan untuk cabut dari pelatnas diam-diam. Ini timnas Jawa,” demikian curhat Fakhri, saat itu.

Statment itu, menandakan bahwa Fakhri Husaini sejatinya sangat nasionalis. Saat itu, Rusdi Bahalwan terkesan menganaktirikan anak-anak dari luar Jawa. Padahal, tim nasional ini membawa nama bangsa Indonesia, dan merah putih serta lambang garuda yang tertera di dada.

Di jaman Anatoly Polisin, sebelum meraih emas SEA Games 1991, Fakhri Husaini dan Ansyari Lubis, pemain yang pertama-pertama keluar dari pelatnas. Bukan, karena tidak disiplin, tapi memang dari sononya sudah punya pendirian yang kokoh. Bayangkan saja, jika saat itu, masih ada dua sosok playmaker terbaik di jamannya, masih bercokol di tim Anatoly Polosin. 

Sebagai pemain gelandang. Versi Cocomeo News, Fakhri Husaini adalah playmaker (pengatur serangan) sekaligus destroyer (perusak). Karakter dan intelegensia (IQ) Fakhri, adalah kombinasi antara Xavi Hernandez (Barcelona – timnas Spanyol) dan Gennaro Gattuso (AC Milan – timnas Italia). Karakternya mirip Ruud Gullit, berani keluar dari tim nasional Belanda 1994, saat dibutuhkan negara.

Indonesia, sangat beruntung punya pemain dan kini menjadi pelatih nasional. Saran Cocomeo News kepada Iwan Bule dkk, pelatih asing itu wajib belajar ke dalam bahasa, budaya dan sosial masyarakat Sabang sampai Merauke. Ada 3 contoh pelatih asing yang sukses menjadi seolah-olah asli orang Indonesia, yaitu  Antun “Toni” Pogacnik (Yugolsavia, Bapak Sepak Bola Indonesia), Wiel Coerver (Belanda) dan Anatoly Polosin (Uni Soviet). 

Jangan sekali-kali, pemain nasional Indonesia yang harus nunduk-nunduk minta dipilih pelatih asing. Ini sama saja, membawa ke jurang kegagalan.

Sumber Dari Akun FB Cocomeo News
Wartawan Olahraga Senior Erwiyantoro
Penulis buku berjudul Sepakbola Indonesia Tertinggal 50 Tahun

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0